Senin pagi di
musim libur, Gerald
dan lima rekan kami berkunjung ke rumah. Mereka dari Surabaya datang ke
Banyuwangi dengan tujuan untuk menikmati pantai dan gunung di daerah tempat tinggal
kami. Pagi itu, destinasi pertama incaran mereka adalah Teluk Ijo (Green Bay), berada di rute tercepat 40km
yang bisa ditempuh dalam waktu 1 jam 16 menit dari lokasi rumah melewati Kesilir,
Pesanggaran, dan Rajegwesi, Sarongan. Dalam pertualangan mereka menuju Teluk,
aku dan adik, Enta diajak pula untuk turut bersama mereka. Kebetulan, Enta yang
tahu arah menuju kesana. Kendaraan mobil yang kami tumpangi cukup untuk delapan
orang dan kami pun berangkat segera setelah menghabisi gado-gado spesial yang
dibuat dari resep rahasia tante, penjual Gado-Gado Lan Djien terkenal di Pluit,
Penjaringan, Jakarta, Daerah Khusus Ibukota.
Perjalanan menuju
Sarongan begitu menyenangkan lantaran lelucon-lelucon yang dilontarkan sekawanan
kami menggelitik saluran aliran darah menuju otak kami untuk tertawa cekikikan
sampai akhirnya kami pun tiba di pintu masuk, area pembelian tiket dengan
budget per orang Rp. 7.500, dan Rp 10.000 parkir mobil. Sesegera tiket beres,
kami diarahkan menuju tempat perhentian bagi mobil kami, yang menyediakan dua pilihan
bagi kami untuk melanjutkan perjalanan via perahu atau tracking. Kami tak
sempat cari tahu seberapa nominal rupiah yang harus kami korbankan jika kami
harus naik perahu, kami lebih suka jalan kaki bersama tantangan kecapekan
selain alasan tujuan saving uang tetapi
alasan fellowship yang lebih terasa
juga. Setelah beberapa dari kami selesai dari toilet, perjalananpun berlanjut.
Sepanjang 2,9
km kami berjalan melawati jalan yang berliku, menanjak, dan berbatuan. Sesaat bertemu
dengan jalan yang landai, begitu menenangkan kaki kami. Rasanya otot-otot
bertambah menjadi begitu keras, ketika
kami sampai pada jalur anak tangga yang panjang menuju Pantai Batu yang berada
di separuh perjalanan kami selama jalan kaki. Tetapi disatu sisi sulitnya
perjalanan, aku melihat Enta dan Devi yang berjalan mendahuluiku begitu cepat membuat
motivasiku naik, ditambah ada sosok yang sesekali mengulurkan tangannya untuk
menolong, yang mendorong dari belakang ketika mulai lelah dan mengeluarkan
kata-kata penyemangat yang menguatkan mental dan raga. Kami menenangkan nafas
kami di Pantai Batu selama 10 menit sebelum melanjutkan perjalanan. Saat kembali
berjuang dalam misi menuju Teluk Ijo, kami sempat berhenti sesaat ketika kami
menemukan sungai kecil dan jalan buntu. Kami pun mulai bingung arah jalan yang
benar, tetapi salah satu dari kami (Gerald) penasaran dengan sungai kecil itu,
dan akhirnya dia menyeberangi sungai tersebut dan benar ternyata ada jalan
bersambung disana.
Sekalipun
jalan terputus oleh sungai, semangat kami tidak terputus-kaki kami tidak goyah.
Yup, akhirnya perjuangan kami pun terbayar setelah kami melihat langsung Teluk Ijo
yang selama ini hanya ada dalam bayang-bayang imajinasi kami. Kami disana cukup
lama mulai pukul 13.00 hingga 16.00 WIB. Kami menikmati persekutuan dengan
rekan-rekan bersama alam ciptaan, mengambil foto dan beberapa dari kami
berjebur di air pantai. Kami sangat bersukacita, dan pulang.
Perjalanan
kami menuju Teluk Ijo ini mengingatkanku kepada perjalanan hidup yang terkesan
rumit yang pasti pernah dialami semua manusia, yang tidak jarang masalah dan
pergumulan mampir secara bergantian hingga tak jarang pula merasa kewalahan dan
menangis karena rasanya hidup dipenuhi oleh kegelapan tanpa harapan dan
pemulihan datang.
Aku rasa Sang
Perancang Teluk Ijo yang juga Perancang Hidupku ingin agar di masa-masa yang melelahkan
dalam hidupku bisa belajar dari pengalaman adventure
ini.
Ribuan tahun
lalu, ketika prajurit Yahudi bertempur dan Daud berada dalam posisi yang
membahayakan menuju Yerusalem, tanpa bersungut-sungut
sebuah nyanyian indah diekspresikan dengan tegas bahwa Ada Penolong yang kuat
yang besar yang menaklukkan segala ciptaan yang bersedia siang dan malam
menjaga nyawa terhadap segala kecelakaan sampai selama-lamanya.
TUHAN, Penjaga Israel
Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang
pertolonganku?
Pertolonganku ialah dari TUHAN , yang menjadikan langit
dan bumi.
Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap.
Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.
Tuhanlah Penjagamu , Tuhanlah
naunganmu di sebelah tangan kananmu.
Matahari tidak
menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam.
TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia
akan menjaga nyawamu.
TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.
(Tulisan
nyanyian ziarah dalam mazmur)
Keyakinan prajurit dan Daud
seharusnya menjadi keyakinan manusia zaman ini pula, bahwa ada Pribadi menyediakan
Diri-Nya sebagai Penjaga yang selalu siaga 24jam non-stop selama tak terbatas
periode hidup manusia. Jika mereka tidak mau mengandalkan dewa Baal yang bisa
terlelap dalam tidur, maukah kita sepenuhnya mempercayakan perjalanan hidup
kita bukan kepada ilah-ilah lain yang berdalih sebagai watchful keeper? Maukah kita melayangkan mata kita kepada Allah, Penjaga
yang tidak akan pernah tertidur dan akan memproteksi jalan manusia?


Tidak ada komentar: